Ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berketetapan tidak menyembah patung, mereka tidak hanya didorong oleh iman dan percayanya kepada Allah. Mereka memiliki motivasi yang kuat sehingga mereka mempunyai sebuah ketetapan.
Richard Denny dalam bukunya Sukses Memotivasi mengungkapkan, bahwa dasar bagi segala motivasi adalah harapan. Harapan, lanjutnya, adalah syarat awal agar seseorang dapat termotivasi.
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memiliki harapan. Dan harapan itulah yang memotivasi mereka. Harapannya apa? Mereka memiliki Allah yang hidup. Allah yang sanggup melepaskan mereka dari nyala api.
Motivasi inilah yang kemudian mengokohkan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menjadi sosok yang menang. Dahsyatnya motivasi ini juga berdampak besar bagi orang lain, yakni Raja Nebukadnezar (Daniel 3:28-30).
Kebanyakan orang percaya, motivasi yang dimiliki hanya sampai pada hal yang seperti ini. Allah yang menolong. Allah yang memberkati. Allah yang membela. Dan lain sebagainya. Tetapi motivasi dari Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak hanya membara ketika dia sedang menantikan pertolongan. Seandainya Allah tidak menolong, toh mereka tetap memuja Allahnya!
Motivasi atau harapan seperti ini layak ada dalam hidup semua orang percaya. Tetap memuja dan mengasihi Allah, baik saat menerima pertolongan dan berkat maupun tidak. Untuk yang terakhir, bisakah Anda?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar