Rabu, 13 Agustus 2008

UNTUK LAWAN

Ketika saya melayani salah seorang peserta Penyelaman Rohani beberapa waktu lalu, salah seorang peserta dari Jombang mengatakan: “Saya sudah tidak berarti lagi”. Maka kemudian dia melakukan sesuatu yang seharusnya tidak harus dia lakukan. Dia terjebak dengan kepahitan, kekecewaan, pornografi, seks bebas, dan obat-obat terlarang.

Saya yakin bahwa di atas bahu orang-orang mudalah terletak tanggung jawab yang besar. Tuhan berharap banyak dari orang-orang muda, yang hidup dalam keturunan zaman sekarang, dimana terang dan pengetahuan makin bertambah-tambah. Dan ketika dunia global menguasai seluruh kehidupan manusia, perlu keyakinan bahwa ketika seseorang berbuat bagi orang lain, dia juga berbuat bagi dirinya sendiri.

Michael Le Boeuf dalam bukunya How To Motivate People mengatakan: Anda mendapatkan lebih banyak daripada sikap yang Anda berikan. Anda tidak mendapatkan apa yang Anda harapkan, yang Anda minta, yang Anda inginkan, atau yang Anda mohon. Anda mendapatkan apa yang Anda berikan.

Daniel ketika berada di Babel tahu persis, bahwa dia bukan utusan atau delegasi atau duta dari negaranya. Dia hanya salah seorang tawanan. Tetapi dia tahu persis bahwa kehidupannya akan bermanfaat apabila dia mendatangkan manfaat bagi orang lain.

“Mereka memohon kasih sayang kepada Allah semesta langit mengenai rahasia itu, supaya Daniel dan teman-temannya jangan dilenyapkan bersama-sama orang-orang bijaksana yang lain di Babel”. Daniel bertindak. Daniel berbuat. Ketika dia berbuat dan bertindak, dia tidak bertindak atas kemauannya sendiri. Dia memohon belas kasihan Allah. Daniel menerima kasih karunia Allah. Dia berbuat hal yang baik bagi lawannya.

Anak muda, bangsamu memerlukanmu. Daniel menghimpunkan ketiga temannya untuk mendapatkan solusi. Dan Daniel memperoleh solusi tersebut. Bagaimana dengan Anda?

DAHSYATNYA MOTIVASI 2

Sebuah kecelakaan menimpa seorang ibu muda dan bayinya. Mobil yang dikemudikan ibu ini terbalik dan berhenti dalam posisi miring. Sang ibu terlempar keluar, sementara bayinya berada di dalam mobil persis di bagian sisi mobil yang miring. Ketika regu penolong sampai di tempat kejadian, sang ibu terlihat tersimpuh sambil mendekap bayinya yang tidak cedera. Keduanya kemudian dilarikan ke rumah sakit.
Hasil pemeriksaan rumah sakit menunjukkan bahwa tulang belakang sang ibu retak. Hal ini bukan akibat terlemparnya sang ibu dari dalam mobil. Sang ibu menceritakan kejadian persisnya. Ibu yang berperawakan kecil ini berusaha membalikkan mobilnya ke posisi empat rodanya di bawah. Kemudian dengan susah payah mengeluarkan bayinya dari dalam mobil dengan menggunakan kedua kakinya. Dalam upaya mengeluarkan bayinya itulah tulang belakang sang ibu retak.
Dalam keadaan normal, tidak mungkin seorang ibu berperawakan kecil mampu melakukan hal itu. Benar sang ibu tidak memiliki kekuatan otot dan fisik. Tetapi dia memiliki kekuatan motivasi!
Daniel mendapatkan ancaman untuk dimasukkan ke dalam pemangsa paling agresif yakni singa yang kelaparan. Hukuman ini datang karena ketetapan hatinya untuk memuja Allah yang Maha Kuasa. Ketetapan hatinya inilah yang menjadi motivasi vital dalam hidup Daniel. Jangankan kehilangan fasilitas sehari-harinya. Nyawanya pun dipertaruhkannya.
Motivasi Yesus datang dan menyelamatkan manusia karena Dia begitu mengasihi manusia. Dari motivasi ini Dia berketetapan untuk menyerahkan nyawanya.
Adakah keadaan dunia – kesulitan hidup, masalah, problem, pergumulan – menyurutkan kasih kita kepada Dia? Ketika kita memiliki motivasi yang benar di dalam hidup kita, maka kita juga akan mengasihiNya, seperti halnya Dia mengasihi kita.
Berapa banyak orang-orang muda laki-laki dan perempuan telah menyia-nyiakan kuasa, yang telah diberikan TUHAN kepadanya oleh gila-gilaan dan pemborosan.

DAHSYATNYA MOTIVASI 1

Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Grassroots Group terhadap 500 perusahaan dari 1000 perusahaan terkemuka di Inggris, ditemukan bahwa 95 persen dari perusahaan yang memberi tanggapan merasa, bahwa staf mereka masih bisa dimotivasi. Motivasi juga menjadi kebutuhan penting pada setiap manusia agar manusia tersebut bisa bertahan hidup.

Ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berketetapan tidak menyembah patung, mereka tidak hanya didorong oleh iman dan percayanya kepada Allah. Mereka memiliki motivasi yang kuat sehingga mereka mempunyai sebuah ketetapan.

Richard Denny dalam bukunya Sukses Memotivasi mengungkapkan, bahwa dasar bagi segala motivasi adalah harapan. Harapan, lanjutnya, adalah syarat awal agar seseorang dapat termotivasi.

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memiliki harapan. Dan harapan itulah yang memotivasi mereka. Harapannya apa? Mereka memiliki Allah yang hidup. Allah yang sanggup melepaskan mereka dari nyala api.

Motivasi inilah yang kemudian mengokohkan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menjadi sosok yang menang. Dahsyatnya motivasi ini juga berdampak besar bagi orang lain, yakni Raja Nebukadnezar (Daniel 3:28-30).

Kebanyakan orang percaya, motivasi yang dimiliki hanya sampai pada hal yang seperti ini. Allah yang menolong. Allah yang memberkati. Allah yang membela. Dan lain sebagainya. Tetapi motivasi dari Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak hanya membara ketika dia sedang menantikan pertolongan. Seandainya Allah tidak menolong, toh mereka tetap memuja Allahnya!

Motivasi atau harapan seperti ini layak ada dalam hidup semua orang percaya. Tetap memuja dan mengasihi Allah, baik saat menerima pertolongan dan berkat maupun tidak. Untuk yang terakhir, bisakah Anda?

TIDAK HANYUT

Saat mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa di Samarinda-Kalimantan Timur salah seorang peserta tuan rumah mengajak saya untuk singgah. Dia tinggal di rumah panggung yang dibangun di atas sungai. Kebanyakan dari mereka juga demikian.

Saat senja menjelang, mentari yang mulai menyusup turun ke batas cakrawala terlihat cantik dan mempesona. Berbarengan dengan itu, hadirlah kawanan nyamuk yang bersiap untuk santap malam. Ketika saya mulai menepuk dan menepis kawanan “penghisap darah”, teman saya menyodorkan minyak. Saya pikir minyak tawon atau balsam atau sebangsanya. Ternyata minyak ini campuran minyak ikan dan minyak babi untuk pengusir kawanan nyamuk. Ketika saya cium, waow aromanya sungguh tidak enak. Amis dan anyir.

Saya harus memilih. Menyediakan diri dihisap sepuasnya oleh kawanan “penghisap darah” atau bergumul dengan aroma yang kurang sedap?

Daniel dan kawan-kawan sedikit pun tidak berkeinginan berada di Babel. Mereka berada di situ atas inisiatif eksternal, yakni penguasa saat itu. Kondisi politik mendorong setiap orang agar taat terhadap penguasa. Hukum positif yang berlaku, mewajibkan setiap orang yang berada dalam negara harus mengikuti dan tunduk. Tidak hanya secara fisik, pikiran dan mental juga menjadi target agar bisa dikuasai. Maka penguasa menerapkan hukum ke dalam tata cara ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa penguasa saat itu berusaha mengambil alih total kehidupan Daniel dkk dan bangsa Israel yang ditawan.

Keadaan ini membawa Daniel pada dua pilihan. Mengikuti Allahnya atau mengubah keyakinan dan imannya?

E. Stanley Jones, seorang penginjil kesohor berkata demikian: “Apa yang menarik perhatian Anda akan menarik Anda”.

Daniel sama sekali tidak tertarik dengan apa yang ada di hadapannya. Meskipun saat itu, dia menikmati fasilitas Negara. Mess, makanan, lingkungan dan lain-lain. Perhatiannya hanya kepada Allahnya. Ketika mata Daniel tertarik pada keintimannya dengan Allahnya, maka hal itu membawa Daniel ke sana. Daniel berhasil mengubah paradigma penguasa (Daniel 2:47). Tidak hanya Daniel, sang penguasanya pun menelorkan regulasi baru (Daniel 6:26-28).

Aku dan keluargaku


Keluarga adalah bagian penting dan tak terpisahkan. Merekalah magma hangat yang menghadirkan semangat di dalam hidup. Anugerah terbesar dari Tuhan Yesus Kristus.