Kamis, 23 April 2009

Live Free or Die

Ini pelat nomor mobil yang saya lihat di Manchester, New Hampshire, AS. Live free or die bahkan menjadi moto resmi negara bagian yang termasuk dalam kawasan New England itu. Ini mungkin moto paling kondang di AS.

Frasa ‘live free or die‘ atau ‘hidup merdeka atau mati’ dicetak di setiap pelat nomor kendaraan yang diterbitkan New Hampshire. Maknanya kira-kira sama dengan slogan kemerdekaan kita, ‘Merdeka atau Mati’.

Slogan ini sebenarnya berasal pada masa perang. Tentara dan pejuang New Hampshire terkenal paling gigih dan independen saat itu. Baru ditetapkan pada 1945, umur moto ini dimulai pada 31 Juli 1809.

Gara-gara Jenderal John Stark, tentara paling terkenal dari New Hampshire selama Perang Revolusi Amerika, tidak bisa menghadiri acara tahunan peringatan Pertempuran Bennington. Sebagai gantinya dia mengirim surat bertuliskan ‘Live free or die: Death is not the worst of evils’.

Moto hidup Live Free or Die juga terlihat dari kehidupan keseharian warga New Hampshire. Misalnya mereka merdeka dari kewajiban mengenakan seat belt saat bermobil. Tidak mengenakan helm ketika naik motor pun tidak akan membuat mereka berurusan dengan polisi. Ini tidak dialami penduduk negara-negara bagian lain di seluruh AS.

Live Free or Die juga merembet ke urusan pajak. New Hampshire satu-satunya negara bagian di AS yang tidak memberlakukan pajak pendapatan dan penjualan.

Beli celana jeans Levi’s di New Hampshire akan lebih murah dibandingkan beli di Denver misalnya. Bahkan meskipun kita membelinya di toko jaringan seperti JC Penney atau Macy. Teman-teman saya memborong celana Levi’s dan Dockers, serta mainan Lego di JC Penney, Manchester.

Jadi kalau berkunjung ke New Hampshire, jangan lupa membeli suvenir ‘resmi’. Apapun suvenirnya, gantungan kunci hingga T-shirt, baru sah bilah bertuliskan ‘live free or die’.


Sumber: http://www.kistyarini.com

Senin, 06 April 2009

Buka Tutup Itu!

KETIKA manusia dikeluarkan dari Taman Eden, semata-mata karena Allah tidak bisa bersatu dengan dosa. Keinginan Allah sangat jelas: "manusia memiliki hidup dan hidup di dalam kelimpahan". Hal itu sangat nyata diwujudkan dalam kehadiran Yesus Kristus di dunia.

Yohanes 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Tidak dipungkiri, keinginan Allah agar manusia memperoleh segala sesuatu yang baik, tidak semua manusia menikmatinya. Bukan karena kasih Allah itu semakin luntur dan pudar. Bukan pula berkat yang dipersiapkan bagi manusia itu telah menipis dan habis. Tetapi seringkali manusialah yang "berupaya menggagalkan" rencana Allah.

Contoh: Ketika manusia punya keinginan agar hidupnya semakin baik dan meningkat, maka dengan cepat dia "membatalkan" sendiri dengan berkata: "Ah tidak mungkinlah. Dari dulu aku memang hidup susah. Bahkan kakek nenekku pun juga begitu. Mana mungkin aku bisa hidup lebih baik". Bukankah hal ini upaya penggagalan dari rencana Allah?

Saat Daud datang ke medan pertempuran - ketika dia disuruh ayahnya mengirim makanan untuk kakak-kakaknya - dia tertantang dengan kesombongan Goliat. Tetapi ketika dia menyediakan diri untuk berperang dengan Goliat, apa tanggapan Saul?

1Samuel 17:33 Tetapi Saul berkata kepada Daud: "Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit."

Bukankah hal ini sama seperti tipu muslihat Iblis yang menggunakan mulut Saul agar Daud tidak mengalami pengalaman luar biasa bersama dengan Allah? Ada "tutup" yang berusaha mengungkung Daud.

Seandainya Daud terprovokasi ucapan Saul, mungkinkah Daud bisa menjadi raja yang besar? Kalau dalam pikirn Daud berkata demikian: "Oh iya ya. Ngapain aku ikut urusan negara. Negara biar diurusi pemerintahannya. Lebih baik aku ngurusin kambing dombaku yang dua tiga ekor aja ah!" Jika itu yang ada dalam benak Daud, mustahil Daud dipakai lebih besar lagi oleh Allah.

Tidak hanya dari Saul intimidasi itu muncul. Di dalam 1 Samuel 17:42 " Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya".

Tetapi Daud sama sekali tidak gentar. Lihat apa yang terjadi? Kemenangan yang gilang-gemilang diberikan Allah kepada Daud. Daud mengalami kemenangan dengan cara yang tidak masuk di akal. Semuanya itu dilakukan oleh Allah yang luar biasa.

Suatu saat, ada seorang peneliti yang menangkapi kutu loncat dan memasukannya ke dalam sebuah stoples. Kutu loncat ini ketika berada di luar, dia mempu melompat setinggi 80 cm bahkan ada yang lebih. Ketika mereka ada di dalam stoples, mereka tidak bisa melompat dengan maksimal. Padahal mereka memiliki karunia yang maksimal.

Ketika beberapa bulan berada di dalam stoples dan kemudian dikeluarkan, apakah mungkin mereka bisa melompat tinggi-tinggi seperti sediakala? Jawabnya pasti: Tidak! Kenapa? Mereka biasa terhalang dengan tutup stoples, maka mereka akan ketakutan melakukan lompatan yang tinggi.

Bukankah banyak Orang Kristen yang tidak mengalami kuasa Tuhan Yesus hanya karena mereka terkungkung tutup stoples? Seharusnya bisa melompat dengan maksimal, tetapi tidak mampu. Buka tutup stoples itu. Agar bisa melompat maksimal. Tuhan Yesus mengaruniakan segala sesuatu serba maksimal, agar Anda bisa melompat dengan maksimal.

Kamis, 02 April 2009

Makanya Jangan Pelit!

Ada seorang koki yang terkenal sangat pelit. Koki ini punya restoran yang di atasnya dipergunakan untuk kos mahasiswa. Sama-sama tahulah, kalau mahasiswa seringkali hidup pas-pasan. Maka untuk makan pun juga pas-pasan. Tetapi mahasiswa ini banyak akal.

Seperti biasa, pada jam-jam makan siang atau makan malam, restoran yang di bawahnya sangat ramai dikunjungi orang. Suatu malam menjelang makan malam, mahasiswa ini begitu lapar, tetapi tidak punya uang untuk beli makanan. Maka dia mengambil piring dan sisa nasi putih dari dalam lemari makan. Dia kemudian mulai melongokkan kepalanya melalui jendela kamarnya yang ada di atas restoran. Ketika koki ini mulai masak, maka aromanya membubung naik. Ketika tercium bau cap cay, dia menhirup dalam-dalam aroma capcay sambil bergumam: “Wow puji Tuhan hari ini makan cap cay”. Sambil dia memasukkan nasi putih ke dalam mulutnya.

Hal ini sudah berulangkali dilakukan oleh mahasiswa ini kalau sedang dalam keadaan dompet tipis.

Tanpa dinyana, ternyata suatu saat sang koki memergoki si mahasiswa. Koki marah-marah. Dia berkata: “Kamu sudah mencuri milikku”.

Lalu sang koki melaporkan hal ini ke polisi. Maka diproseslah di pengadilan.

Beruntung si mahasiswa mendapatkan pembela yang cerdas dan kebetulan masalahnya juga ditangani oleh hakim yang bijaksana. Lalu sang hakim memutuskan bahwa si mahasiswa bersalah dan harus membayar ganti rugi. Hal ini persis seperti apa yang diinginkan sang koki. Sebelum meninggalkan ruang sidang, sang hakim membisikkan sesuatu kepada si mahasiswa.

Keesokan harinya digelar eksekusi pembayaran ganti rugi. Si mahasiswa datang dengan membawa sekarung uang logam. Setelah sekarung uang logam ini dibawa di depan hakim, hakim kemudian merogoh uang tersebut dan menjatuhkan kembali ke dalam karung tersebut. Hadirin mendengarkan bunyi uang logam yang bergemerincing. Criiiiiiinggg. Demikian pula dengan sang koki ikut mendengarkan dengan seksama.

Hakim bertanya kepada koki: “Apakah Anda yakin bahwa ini uang?”

“Ya Pak Hakim. Saya yakin itu uang,” jawab koki.

“Yakin?” Tanya Hakim kembali.

“Ya!”

“Oke, kalau begitu Anda boleh pulang dan engkau hai mahasiswa bawa kembali sekarung uang ini”, kata pak Hakim berwibawa.

“Lho uang saya bagaimana?” Tanya koki.

“Uang yang mana?” balas Hakim.

“Uang ganti rugi”.

Pak Hakim kembali bertanya: “Engkau menuntut mahasiswa ini mencuri sesuatu darimu?” Koki mengangguk. “Yang dia curi adalah aroma masakanmu?” Koki kembali mengangguk. “Nah oleh karena itu, kalau dia mencuri bau masakanmu, maka engkau cukup mendengar bunyi uang ini. Kasus selesai, sidang ditutup”.

Makanya jangan pelit. Ingat Firman Tuhan:

pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah”. (1 Korintus 6:10)

Rabu, 01 April 2009

Mengakhiri Pertandingan

2Timotius 4:7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman

Adakah persamaan antara perenang dengan pebulutangkis? Jelas beda. Perenang bertan­ding/berlomba di dalam air, sedangkan pebu­lu­tangkis bertanding di lapangan.

Bagaimana dengan pemain sepak bola dan pecatur? Juga berbeda. Pemain bola menyentuh dan menendang bola. Sedangkan pecatur tidak mungkin bertanding dengan me­nyentuh dan menendang.

Kalau pelari dan petinju? Juga berbeda. Pe­lari, begitu peluit dibunyikan, mereka akan berusaha berlari se­kencang-kencangnya untuk menjauhi lawan-lawannya. Sedangkan petinju, begitu bel berbunyi, mereka berusaha untuk saling merangsek dan saling memukul.

Ada hal lain yang begitu menentukan kemenangan mereka, yakni:

1. Melakukan pertandingan/perlombaan dengan sungguh-sungguh

Setiap atlet pasti melakukan per­tandingannya dengan sungguh-sungguh dan bersemangat. Tidak ada perenang, ketika ber­lomba sambil bege­jesan (bergurau). Juga tidak dijumpai pemain bola, ketika bertanding sambil bawa majalah, kalau-kalau tidak ada bola mereka santai sambil membaca majalah. Begitu pula tidak ada petinju ketika bertanding sambil mengenakan head-phone agar dia bias mendengarkan radio.

2. Yang menentukan adalah hasil akhir

Meskipun Persebaya pada babak 1 menang 12-0 tetapi kalau di babak kedua mereka kebo­bolan 20 gol, pastilah Persebaya kalah. Atau misalnya Tyson unggul angka dari ronde 1 sam­pai ronde 14. Tetapi kalau dia pada ronde 15 dipukul KO oleh Holyfield, maka 14 ronde itu tidak a­da artinya.

Dua hal ini selaras dengan apa yang ada di dalam Kisah Para Rasul 20:24. Bersungguh-sungguh dan Mencapai garis akhir.

Hidup kita ini ibarat sedang dalam pertan­dingan. Paulus dalam 1Korintus 9:24-27 menyampaikan:

1. Menguasai dirinya dalam segala hal (a­yat 25)

Menguasai diri di dalam bahasa Yunani dituliskan dengan kata egkrateumai. Yang berarti menge­kang diri, memusatkan diri, menghindari diri. Setiap orang yang bertanding akan berusaha menguasai dirinya. Ar­tinya tidak berleha-leha, lengah, terlena, enak-enakan, atau dalam keadaan tidak waspada.

Kepada Jemaat Kolose, Rasul Paulus pernah menasihati: Apapun yang kamu perbuat, la­ku­kanlah dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan (Kolose 3:23)

Kenapa ada orang yang merayakan atau mengingat hari ulang tahunnya?

2. Tidak sembarangan (ayat 26)

Harus ada tujuan. Fokus. Tujuan. Bagaimana jadinya kalau seseorang hidup dengan tanpa tujuan. Bukan untuk kepentingan dan keperluan sesaat saja.

Tujuan dan focus orang percaya adalah keselamatan yang disediakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Tetapi ada banyak orang Kristen justru mengesampingkan tujuan ini, lalu kemudian berfokus pada sesuatu yang lain yang sebenarnya adalah sesuatu yang sia-sia dan fana.

Suatu saat ada seorang raja yang gila kekayaan terutama emas. Dia memohon kepada para dewa, lalu kemudian para dewa memutuskan untuk mengabulkan permintaan raja tersebut. Ketika dia coba kesaktiannya, langkah pertama dia ambil batu. Saat dia menyentuh batu itu, maka batu tersebut berubah menjadi emas. Wow senang sekali hatinya. Maka disentuhlah semua benda yang ada di sekitarnya.

Pada suatu saat laparlah ia. Ketika dia mau menyentuh buah untuk dimakan, maka buah yang akan dimakan tersebut juga berubah menjadi emas. Saat dia haus hendak minum, gelas dan air yang ada di dalamnya juga menjadi emas. Maka sedihlah hatinya. Lalu kelihatan olehnya, istrinya yang sangat cantik dan sangat dia sayangi. Dipanggilnya lalu istrinya mendekat. Ketika dia membelai rambut istrinya, maka sang istri berubah menjadi emas. Ha?

Ketika orang percaya lalai dengan focus hidupnya, maka kesia-siaan yang akan dijumpai. Orang Kristen harus fokus pada tujuannya yakni ke Surga. Sebab kita adalah warga kerajaan Surga (2Tesalonika 1:5).

3. Melatih tubuh dan menguasai (ayat 27)

Layaknya seorang atlet yang melatih tubuhnya agar terampil dan siap bertanding, maka orang percaya harus melatih hidupnya dengan melakukan kebenaran Firman Tuhan. Melakukan Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Serta menjaga kehidupannya dengan takut dan gentar (Filipi 2:12).

Suatu saat Tuhan Yesus berfirman: Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. (Matius 8:11-12)

Ingat! Kunci keberhasilan seorang atlet diten­tukan dengan dua hal: melakukan dengan ke­sungguhan dan hasil akhir.

Betapa bangga dan berbahagianya seorang atlet yang maju ke podium (beema) untuk menerima tan­da kemenangan. Demikian pun kita. Apabila kita menang dan mencapai garis akhir, maka mahkota kebenaran pun akan dianugerahkan bagi kita (2Timotius 4:8). Terpujilah Nama Tuhan Yesus Kristus.