Seperti biasa, pada jam-jam makan siang atau makan malam, restoran yang di bawahnya sangat ramai dikunjungi orang. Suatu malam menjelang makan malam, mahasiswa ini begitu lapar, tetapi tidak punya uang untuk beli makanan. Maka dia mengambil piring dan sisa nasi putih dari dalam lemari makan. Dia kemudian mulai melongokkan kepalanya melalui jendela kamarnya yang ada di atas restoran. Ketika koki ini mulai masak, maka aromanya membubung naik. Ketika tercium bau cap cay, dia menhirup dalam-dalam aroma capcay sambil bergumam: “Wow puji Tuhan hari ini makan cap cay”. Sambil dia memasukkan nasi putih ke dalam mulutnya.
Hal ini sudah berulangkali dilakukan oleh mahasiswa ini kalau sedang dalam keadaan dompet tipis.
Tanpa dinyana, ternyata suatu saat sang koki memergoki si mahasiswa. Koki marah-marah. Dia berkata: “Kamu sudah mencuri milikku”.
Lalu sang koki melaporkan hal ini ke polisi. Maka diproseslah di pengadilan.
Beruntung si mahasiswa mendapatkan pembela yang cerdas dan kebetulan masalahnya juga ditangani oleh hakim yang bijaksana. Lalu sang hakim memutuskan bahwa si mahasiswa bersalah dan harus membayar ganti rugi. Hal ini persis seperti apa yang diinginkan sang koki. Sebelum meninggalkan ruang sidang, sang hakim membisikkan sesuatu kepada si mahasiswa.
Keesokan harinya digelar eksekusi pembayaran ganti rugi. Si mahasiswa datang dengan membawa sekarung uang logam. Setelah sekarung uang logam ini dibawa di depan hakim, hakim kemudian merogoh uang tersebut dan menjatuhkan kembali ke dalam karung tersebut. Hadirin mendengarkan bunyi uang logam yang bergemerincing. Criiiiiiinggg. Demikian pula dengan sang koki ikut mendengarkan dengan seksama.
Hakim bertanya kepada koki: “Apakah Anda yakin bahwa ini uang?”
“Ya Pak Hakim. Saya yakin itu uang,” jawab koki.
“Yakin?” Tanya Hakim kembali.
“Ya!”
“Oke, kalau begitu Anda boleh pulang dan engkau hai mahasiswa bawa kembali sekarung uang ini”, kata pak Hakim berwibawa.
“Lho uang saya bagaimana?” Tanya koki.
“Uang yang mana?” balas Hakim.
“Uang ganti rugi”.
Pak Hakim kembali bertanya: “Engkau menuntut mahasiswa ini mencuri sesuatu darimu?” Koki mengangguk. “Yang dia curi adalah aroma masakanmu?” Koki kembali mengangguk. “Nah oleh karena itu, kalau dia mencuri bau masakanmu, maka engkau cukup mendengar bunyi uang ini. Kasus selesai, sidang ditutup”.
Makanya jangan pelit. Ingat Firman Tuhan:
“pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah”. (1 Korintus 6:10)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar